ULASAN FILM DUA GARIS BIRU TAHUN 2019
Identitas Film: Dua
Garis Biru
Asal Film: Indonesia
Durasi Film: 112
menit
Jenis Film: Drama,
Romantis
Sutradara Film: Gina
S. Noer
Penulis Film: Gina
S. Noer
Studio Film: Starvision
Plus
Tahun Rilis Film: 2019
Pemain Film: Angga
Aldi Yunanda, Adhisty Zara, Dwi Sasono, Lulu Tobing, Arswendy Bening Swara, Cut
Mini Theo, & Rachel Amanda
Estimasi Biaya: Sekitar
Rp. 5 Miliar Rupiah
Keuntungan Penjualan:
Sekitar Rp. 30 Miliar Rupiah
Penilaian Film
Cinepoint: 8 Poin / 10 Poin
Penilaian Film
Cineverse: 4 Poin / 5 Poin
Penilaian Film Montasefilm: 4.5 Poin / 5 Poin
Pengulas Film: Aisyah Nur Rahmah Febriani
Website Pengulas Film:
https://belajarmenjadigurusejati.blogspot.com
Bismillahirrahmanirrohim. Assalamu’alaikum
Warrahmatullahi Wabarakatuh, saya tertarik mengulas film ini disebabkan karena mengusung
tema sensitif terkait pergaulan bebas, kehamilan diluar nikah, & kesenjangan
sosial antara pasangan yang saling jatuh cinta. Awalnya saya pikir akan terlalu
vulgar, sensual, seksual, & liar, padahal pada kenyataannya sangat sesuai
realitas, banyak menyadarkan atas pentingnya kesadaran kesehatan reproduksi
remaja perempuan, & masa depan kedua sejoli ke depannya seperti ap ajika bayinya
dipertahankan ataupun bayinya ditiadakan. Setiap tindakan menimbulkan resiko
besar dan rentan bagi diri sendiri maupun orang lain. Yuk, Simak ulasan film
ini untuk belajar bahayanya seks bebas!
A.
Berikut
Sinopsis Lengkap Dari Film Ini:
Film “Dua Garis Biru” Tahun 2019 menceritakan kisah
cinta remaja antara Bima dan Dara, yang harus menghadapi konsekuensi dari
hubungan terlarang mereka & status sosial mereka yang berbeda. Ketika Dara
hamil di luar nikah, keduanya terpaksa harus berhadapan dengan kenyataan pahit
yang akan mengubah hidup mereka selamanya. Film ini menggambarkan perjalanan
mereka dalam menghadapi stigma sosial, harapan, dan tanggung jawab yang muncul
akibat kesalahan di masa remaja.
B.
Karakter-Karakter
Penting Dalam Film Ini:
1.
Angga
Aldi Yunanda sebagai Bima, seorang remaja laki-laki yang jatuh cinta pada Dara memiliki
fisik tinggi, berkulit sawo matang, sifatnya pendiam, kehidupan sederhana, berbeda
status sosial dengan Dara, dan berjuang untuk bertanggung jawab atas kesalahan
mereka berdua.
2.
Adhisty
Zara sebagai Dara, seorang remaja perempuan yang jatuh cinta pada Bima memiliki
fisik mungil, berkulit putih, sifatnya ceria juga cerewet, kehidupan mewah, berbeda
status sosial dengan Bima, berjuang untuk bertanggung jawab atas kesalahan
mereka berdua, & menghadapi dampak dari kehamilan tidak terencana.
3.
Dwi
Sasono sebagai Papi Dara, seorang bapak berusia 30 tahunan, memiliki fisik
tinggi, berkumis, bergaya nyentik, flamboyan, memakai model baju model terbaru,
jam tangan mewah, sepatu yang mengkilap, memiliki restoran mewah, & lebih
seperti bapak-bapak takut istri.
4.
Lulu
Tobing sebagai Mami Dara, seorang ibu berusia 30 tahunan, memiliki fisik sedang,
langsing, berkulit putih, bergaya femme fatale, girl bossy, memakai model baju model
terbaru, jam tangan mewah, tas mewah branded, heels keluaran terbaru, humas
hotel mewah, & lebih seperti ibu-ibu yang dominan didalam rumah tangga.
5.
Arswendy
Bening Swara sebagai Ayah Bima, seorang bapak berusia 50 tahunan, memiliki
fisik tinggi, kurus, pendiam, ramah, penenang, bergaya sederhana, penyabar,
memakai model baju betawi, sepatu selop, bengkel reparasi motor, & lebih
seperti bapak-bapak pengayom istri.
6.
Cut
Mini Theo sebagai Ibu Bima, seorang ibu berusia 50 tahunan, memiliki fisik sedang,
kurus, berjilbab, berkulit kuning langsat, bergaya muslimah, girl boss, cerewet,
blak-blakan, memakai model baju muslimah, ibu rumah tangga, & lebih seperti
ibu-ibu yang pengajian dikampung.
7.
Rachel
Amanda sebagai Kakak perempuan pertama Bima, seorang kakak perempuan pertama
yang berusia 20 tahunan, memiliki fisik sedang, kurus, berjilbab, berkulit kuning
langsat, bergaya muslimah, feminim girl, lemah lembut, penyayang, memakai model
baju muslimah, sudah bertunangan tapi Ikhlas dilewati oleh adiknya walau
awalnya sedih sama ngambek, & lebih seperti ibu-ibu yang pengajian dikampung
juga sih wkwkwk.
C.
Hikmah
Film Ini Yang Dapat Di Ambil, Yakni Sebagai Berikut:
Pentingnya pengawasan orang tua dalam hubungan percintaan
remaja yang belum tahu batasan, selalu ingin tahu hal yang terlarang bagi
agama, & pacaran adalah sesuatu yang haram dalam agama Islam karena lebih
banyak keburukan.
Mereka berdua (sejoli ini) harus berani bertanggung
jawab walau menyakiti semua orang yang mereka sayangi dampak dari keputusan
yang dilakukan mereka pada usia muda.
Tanggung jawab yang harus mereka berdua dihadapi
ketika melakukan kesalahan besar yang mempora-porandakan seluruh keluarga
mereka berdua, masa depan, kesehatan mereka berdua, ketidak stabilan mental
dalam menghadapi masalah, & masa depan yang kacau balau.
Peran keluarga dalam mendukung anak-anak mereka di
saat sulit, walau awalnya para orang tua sangat marah pada mereka berdua tetapi
akhirnya meredam, mencoba berpikir jernih, menyadari adanya makhluk hidup baru
yang berhak mendapatkan kasih saying mereka semua, & sedikit demi sedikit memperbaiki
hubungan satu sama lain.
Menghadapi stigma sosial pada remaja perempuan yang diharuskan
dikeluarkan dari sekolah, tatapan semua orang padanya yang hamil diluar nikah, putusnya
hak mendapatkan pendidikan yang layak didalam negeri, dan berjuang untuk masa
depan yang lebih baik.
D.
Rating
Skor Film Ini:
Saya memberikan skor pada film ini yakni, 8.5/10
karena ceritanya serealitis mungkin, memakai logika sekarang, kemajuan berpikir
yang mana perempuan hamil diluar nikah dicabut paksa haknya akibat hamil diluar
nikah padahal harusnya kedua remaja itu baik perempuan maupun laki-laki, tetapi
juga tidak menghancurkan permanen hak Pendidikan mereka berdua.
Seharusnya diberikan solusi lain, seperti boleh
diperbolehkan melanjutkan pendidikan asalkan ditempatkan di Lembaga Home
Schooling agar tidak ada stigma pada korban, tidak jadi bahan gunjingan, & masa
depan kedua orang tua remaja bayi tersebut terjamin untuk bisa mandiri
membiayai bayi tersebut karena bayi tersebut memiliki hak untuk mendapatkan
kehidupan yang layak.
E.
Komentar
Untuk Film Ini:
Film “Dua Garis Biru” Tahun 2019 berhasil menyajikan
kisah yang dekat dengan kehidupan remaja saat ini. Dengan penyampaian yang
realistis dan emosional, film ini tidak hanya menghibur tetapi juga memberikan
pelajaran berharga. Akting para pemain, terutama Angga Aldi Yunanda dan Adhisty
Zara, sangat kuat dan menyentuh hati. Film ini layak untuk ditonton, terutama
bagi kalangan remaja dan orang tua.
Insert
Video: Trailer Film
Demikian, ulasan film yang telah saya bagikan dan
semoga memberikan manfaat, memberikan motivasi, dan berbagi pengalaman kepada
para pembaca sekita karena saya bersyukur dapat berbagi ilmu dan pengalaman
yang saya miliki. Mohon maaf, jika ada salah kata dan khilaf dalam ketikan
saya. Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

0 Komentar
Berkomentarlah dengan sopan dan santun