Museum Sepuluh November

By Aisyah Nur Rahmah Febriani - Minggu, Juni 28, 2026



Bismillahirrahmanirrohim. Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh, Museum Sepuluh November adalah museum sejarah yang berlokasi di pusat Kota Surabaya, tepatnya di dalam kompleks Tugu Pahlawan. Museum ini didirikan sebagai monumen penghormatan terhadap jasa para pahlawan yang gugur dalam Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional setiap tahunnya. Museum ini menyimpan, merawat, dan memamerkan berbagai koleksi sejarah yang berkaitan erat dengan perjuangan arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.



Museum ini dinamakan Museum Sepuluh November karena nama tersebut merujuk langsung pada tanggal pertempuran paling heroik dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, yaitu 10 November 1945. Beberapa alasan spesifik pemilihan nama ini adalah:

  1. Mengabadikan Tanggal Bersejarah: Tanggal 10 November adalah hari ketika pecah pertempuran besar antara arek-arek Suroboyo melawan tentara Sekutu dan Belanda yang menjadi simbol perlawanan rakyat Indonesia secara nasional.
  2. Menegaskan Identitas Hari Pahlawan: Tanggal 10 November kemudian ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai Hari Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959. Nama museum ini menegaskan identitasnya sebagai museum yang didedikasikan untuk memperingati Hari Pahlawan.
  3. Kesinambungan dengan Tugu Pahlawan: Tugu Pahlawan yang menjulang tinggi di atas museum ini juga dibangun untuk memperingati peristiwa 10 November. Nama museum yang sama menciptakan kesatuan identitas antara monumen dan museum.
  4. Mudah Diingat dan Ikonis: Nama "Museum Sepuluh November" sangat mudah diingat oleh masyarakat luas dan sudah menjadi ikon Kota Surabaya yang dikenal hingga seluruh Indonesia dan mancanegara.


Bentuk museum ini sangat ikonis karena bangunannya terletak di bawah tanah (Underground Museum) dengan bentuk yang unik dan modern. Museum ini menjadi salah satu destinasi wisata edukasi dan sejarah paling populer di Jawa Timur, bahkan di Indonesia.



Desain bawah tanah dipilih dengan pertimbangan yang sangat matang dan penuh makna, yaitu: a. Makna Filosofis Kerendahan Hati, desain bawah tanah melambangkan kerendahan hati dan ketulusan para pahlawan yang berjuang tanpa mengharapkan pujian atau penghormatan. Mereka berjuang dengan sembunyi-sembunyi, tidak menonjolkan diri, namun dampak perjuangan mereka sangat besar bagi bangsa; b. Menjaga Estetika Tugu Pahlawan: Tugu Pahlawan yang menjulang tinggi sudah menjadi ikon Kota Surabaya. Dengan membangun museum di bawah tanah, keindahan dan kemegahan Tugu Pahlawan tidak terganggu oleh bangunan baru di sekitarnya; c. Kenyamanan Termal: Bangunan bawah tanah secara alami memiliki suhu yang lebih sejuk dan stabil, sehingga pengunjung merasa nyaman saat berkeliling museum tanpa tergantung sepenuhnya pada pendingin ruangan (AC); d. Akustik yang Baik: Lingkungan bawah tanah mengurangi kebisingan dari luar, menciptakan suasana hening dan khidmat yang sangat mendukung aktivitas kontemplasi dan pembelajaran Sejarah; dan e. Keamanan Koleksi: Koleksi museum yang sangat berharga lebih aman dari risiko kebakaran, gempa, dan pencurian karena berada di bangunan bawah tanah yang kokoh dan terkontrol.



Ir. Soejoedi Wirjoatmodjo dipilih sebagai arsitek Museum Sepuluh November Surabaya dengan alasan yang sangat kuat karena Ir. Soejoedi Wirjoatmodjo adalah arsitek yang sebelumnya telah merancang Tugu Pahlawan pada tahun 1951–1952. Pemahaman beliau yang mendalam terhadap makna dan sejarah Tugu Pahlawan membuat beliau menjadi pilihan yang sangat tepat untuk merancang museum pelengkapnya.



Beliau adalah arsitek senior yang memiliki pengalaman luas dalam merancang bangunan-bangunan monumental di Indonesia. Reputasi beliau sebagai arsitek yang piawai memadukan nilai sejarah, filosofi, dan estetika dalam karya-karyanya sudah tidak diragukan lagi.

Dengan mempercayakan desain museum kepada arsitek yang sama dengan perancang Tugu Pahlawan, maka tercipta kesinambungan visi arsitektural antara monumen di atas tanah dan museum di bawah tanah. Kedua bangunan ini menjadi satu kesatuan yang utuh dan harmonis.

Sebagai arsitek yang lahir dan besar di Jawa Timur, beliau memiliki kedekatan emosional dengan nilai-nilai perjuangan arek-arek Suroboyo, sehingga desain yang dihasilkan terasa autentik dan penuh penghayatan.

Gaya desain Museum Sepuluh November Surabaya mengusung gaya Arsitektur Brutalisme Modern (Modern Brutalism) yang dipadukan dengan konsep bawah tanah (Underground Architecture). Ciri khas gaya desain ini meliputi:

  • Bentuk geometris yang tegas dan monumental: Bangunan museum didominasi oleh garis-garis lurus, sudut-sudut tajam, dan bentuk kubus yang kokoh.
  • Penggunaan beton ekspos (Exposed Concrete): Material utama bangunan adalah beton bertulang yang sengaja dibiarkan tanpa penutup atau finishing berlebihan, menampilkan tekstur alami beton yang kasar dan maskulin.
  • Konsep bawah tanah: Museum ini dibangun di bawah permukaan tanah sehingga dari luar pengunjung hanya melihat atap beton yang rata dengan taman di sekelilingnya. Konsep ini melambangkan kerendahan hati dan kesederhanaan para pahlawan yang tidak ingin "menonjol," sekaligus memberikan sensasi perjalanan spiritual menelusuri lorong waktu perjuangan.
  • Pencahayaan dramatis: Desain pencahayaan di dalam museum menggunakan permainan cahaya dan bayangan yang kuat untuk menciptakan suasana khidmat dan heroik.
  • Sirkulasi linear dan kontemplatif: Tata ruang museum didesain mengalir secara berurutan, membawa pengunjung dalam sebuah narasi perjalanan sejarah yang utuh.

Ide untuk membangun Museum Sepuluh November Surabaya dicetuskan oleh Pemerintah Kota Surabaya dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada era Kepemimpinan Walikota Surabaya, Bapak Soenarto Soemoprawiro, bekerja sama dengan Pemerintah Pusat Republik Indonesia melalui Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan pada masa yang sama. Gagasan ini lahir dari keinginan untuk melengkapi Tugu Pahlawan yang sudah berdiri sejak tahun 1952 agar memiliki fungsi edukatif yang lebih komprehensif. Museum ini dirancang sebagai pelengkap monumen yang sudah ada, sehingga masyarakat dapat lebih mendalami dan merasakan semangat perjuangan para pahlawan secara visual dan interaktif.

Museum Sepuluh November Surabaya dirancang oleh Ir. Soejoedi Wirjoatmodjo, seorang arsitek senior Indonesia yang juga dikenal sebagai perancang Tugu Pahlawan. Beliau adalah seorang arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang memiliki pengalaman luas dalam merancang bangunan-bangunan monumental dan bersejarah di Indonesia. Dalam merancang museum ini, Ir. Soejoedi Wirjoatmodjo dibantu oleh tim arsitek dari Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kota Surabaya serta beberapa konsultan desain yang ahli dalam bidang museum dan tata pamer (Museum Exhibit Design).

Semua area parkir tersebut dikelola secara resmi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya bekerja sama dengan Dinas Perhubungan Kota Surabaya, dengan tarif yang terjangkau dan keamanan yang terjamin.

Proses pembangunan Museum Sepuluh November Surabaya berlangsung dalam beberapa tahapan berikut:

  1. Tahap Perencanaan (Tahun 1997–1998):
    • Pemerintah Kota Surabaya melakukan studi kelayakan (feasibility study) dan survei lokasi.
    • Tim arsitek dan sejarawan menyusun konsep museum yang komprehensif.
    • Dilakukan koordinasi dengan Pemerintah Pusat dan instansi terkait.
  2. Tahap Perancangan (Tahun 1998–1999):
    • Ir. Soejoedi Wirjoatmodjo bersama tim menyusun desain arsitektur dan desain interior.
    • Tim kurator museum mengumpulkan dan menyeleksi benda-benda bersejarah yang akan dipamerkan.
    • Rencana Anggaran Biaya (RAB) disusun secara detail.
  3. Tahap Pembangunan Fisik (Tahun 1999–2000):
    • Pekerjaan konstruksi dimulai dengan penggalian tanah untuk bangunan bawah tanah.
    • Fondasi dan struktur beton bertulang dikerjakan dengan metode konstruksi khusus.
    • Pemasangan instalasi listrik, pencahayaan, tata suara, dan sistem keamanan.
    • Pekerjaan finishing interior, lantai, dinding, dan plafon.
    • Pemasangan koleksi, diorama, relief, dan panel informasi.
  4. Tahap Uji Coba dan Soft Opening (Tahun 2000):
    • Museum diuji coba secara terbatas kepada kalangan sejarawan, veteran, dan tokoh masyarakat.
    • Evaluasi dilakukan terhadap kelengkapan informasi, keamanan pengunjung, dan kenyamanan sirkulasi.
  5. Tahap Grand Opening (10 November 2000):
    • Museum diresmikan secara resmi oleh Presiden B.J. Habibie dan dibuka untuk masyarakat umum.

Proses perancangan desain Museum Sepuluh November Surabaya dilakukan melalui langkah-langkah berikut:

  1. Studi Literatur dan Riset Sejarah: Tim arsitek mempelajari secara mendalam peristiwa Pertempuran 10 November 1945, termasuk karakteristik arsitektur bangunan era kolonial di Surabaya yang menjadi latar pertempuran.
  2. Pendekatan Simbolis: Desain museum menggunakan pendekatan simbolis di mana bentuk fisik bangunan merepresentasikan nilai-nilai perjuangan. Bentuk bawah tanah dipilih untuk melambangkan kerendahan hati para pahlawan yang berjuang tanpa pamrih.
  3. Konsep "Perjalanan Waktu": Tata ruang museum didesain sebagai sebuah perjalanan linier dari masa pra-perjuangan, masa pertempuran, hingga masa penghormatan kepada pahlawan. Pengunjung diajak berjalan menyusuri lorong waktu sejarah.
  4. Pemilihan Material: Beton ekspos dipilih karena material ini melambangkan kekokohan, keteguhan, dan kejujuran (jujur dalam menampilkan material aslinya tanpa polesan). Warna abu-abu beton juga menciptakan suasana khidmat yang sesuai dengan fungsi museum sebagai tempat kontemplasi.
  5. Kolaborasi dengan Ahli Museum: Tim desain bekerja sama dengan kurator museum dan sejarawan untuk memastikan setiap elemen desain mendukung narasi sejarah yang akurat dan informatif.
  6. Uji Coba Pencahayaan: Desain pencahayaan diuji secara detail untuk menciptakan efek dramatis pada diorama dan koleksi, serta memberikan pengalaman visual yang maksimal bagi pengunjung.

Museum Sepuluh November Surabaya diresmikan oleh Bapak K.H. Abdul Rahman Wachid, Presiden Republik Indonesia Keempat. Beliau meresmikan museum ini pada tanggal 10 Februari 2000. Peresmian ini merupakan momen bersejarah karena kehadiran Bapak K.H. Abdul Rahman Wachid menunjukkan betapa pentingnya museum ini sebagai simbol nasionalisme dan penghormatan terhadap jasa para pahlawan.

Pembangunan Museum Sepuluh November Surabaya dimulai pada tahun 1999. Proyek ini merupakan bagian dari program revitalisasi dan pengembangan kawasan Tugu Pahlawan yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Surabaya bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Pembangunan museum ini selesai pada tahun 2000. Proses pengerjaannya memakan waktu kurang lebih satu tahun, terhitung sejak peletakan batu pertama pada awal tahun 1999 hingga tahap finishing interior dan instalasi koleksi pada akhir tahun 2000.

Museum Sepuluh November Surabaya diresmikan untuk umum pada tanggal 10 November 2000. Tanggal ini dipilih dengan sangat simbolis, bertepatan dengan peringatan ke-55 Hari Pahlawan Nasional. Peresmian dilakukan langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak K.H. Abdul Rahman Wachid, dan dihadiri oleh para veteran pejuang kemerdekaan, tokoh masyarakat, serta pejabat negara lainnya.

Museum Sepuluh November Kompleks Tugu Pahlawan Jalan Pahlawan Nomor 15–17 Kelurahan Alun-Alun Contong, Kecamatan Bubutan Kota Surabaya 60174 Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Lokasi museum ini sangat strategis karena berada di pusat Kota Surabaya, tepat di seberang Gedung Negara Grahadi, sekitar Jembatan Merah, & Kawasan Kota Tua Surabaya. Letaknya yang sentral membuat museum ini mudah dijangkau dari berbagai penjuru kota.

Di dalam Museum Sepuluh November, pengunjung dapat menemukan berbagai koleksi dan fasilitas, antara lain:

A.   Koleksi Senjata Asli Zaman Perjuangan terdapat Sepuluh jenis senjata rampasan dari tentara Jepang dan Sekutu dipajang secara rapi, termasuk senapan, pistol, dan mortir.

B.   Diorama Pertempuran Surabaya terdapat Sebanyak 10 diorama tiga dimensi yang menggambarkan secara detail momen-momen heroik Pertempuran 10 November 1945, mulai dari perobekan bendera Belanda di Hotel Oranye (kini Hotel Majapahit) hingga pertempuran sengit di berbagai sudut kota.

C.   Relief Perjuangan terdapat Sebuah relief besar sepanjang puluhan meter yang mengukir perjalanan sejarah perjuangan rakyat Surabaya, mulai dari masa penjajahan Belanda, Jepang, proklamasi kemerdekaan, hingga Pertempuran 10 November.

D.  Koleksi Foto dan Dokumentasi Sejarah terdapat Foto-foto asli para tokoh pejuang, situasi kota Surabaya pada tahun 1945, serta dokumentasi peristiwa bersejarah lainnya.

E.   Replika Surat Keputusan Pertempuran adalah Dokumen bersejarah yang memperkuat narasi perjuangan.

F.   Monumen Nama Pahlawan terdapat Daftar nama ribuan pahlawan yang gugur dalam Pertempuran Surabaya terukir pada dinding museum.

G.  Audio Visual Room adalah Ruang pemutaran film dokumenter tentang Pertempuran 10 November yang dilengkapi dengan teknologi suara dan pencahayaan yang imersif.

H.  Area Edukasi Interaktif ada juga Beberapa pojok interaktif yang memungkinkan pengunjung, terutama pelajar, untuk belajar sejarah secara lebih menarik dan menyenangkan.

I.    Pusat Informasi dan Perpustakaan Mini juga Menyediakan buku-buku referensi sejarah terkait perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Tata letak benda-benda di Museum Sepuluh November dirancang secara kronologis dan tematis. Berikut adalah gambaran letak setiap koleksi:

 

Zona/Ruang

Isi Koleksi

Zona A (Pintu Masuk & Lobi)

Meja informasi, area tiket, dan relief selamat datang yang menggambarkan sekilas tentang Pertempuran Surabaya.

Zona B (Ruang Pengantar Sejarah)

Foto-foto dan dokumentasi masa penjajahan Belanda dan Jepang, serta peta Kota Surabaya tahun 1945.

Zona C (Koridor Diorama 1–3)

Tiga diorama pertama yang menggambarkan peristiwa proklamasi kemerdekaan, kedatangan tentara Sekutu, dan insiden Hotel Oranye.

Zona D (Koridor Diorama 4–6)

Tiga diorama berikutnya yang menggambarkan pertempuran jalanan, peran para ulama dan santri, serta perlawanan rakyat.

Zona E (Koridor Diorama 7–10)

Empat diorama akhir yang menggambarkan pertempuran di Gedung Internatio, pertempuran di Pasar Turi, gugurnya para pejuang, dan makna Hari Pahlawan.

Zona F (Ruang Koleksi Senjata)

Sepuluh jenis senjata asli dan replika yang dipajang dalam lemari kaca dengan pencahayaan khusus.

Zona G (Ruang Audio Visual)

Layar lebar dan sistem suara surround untuk pemutaran film dokumenter.

Zona H (Ruang Nama Pahlawan)

Dinding marmer hitam yang diukir dengan ribuan nama pahlawan.

Zona I (Ruang Edukasi dan Perpustakaan)

Buku-buku referensi, meja belajar interaktif, dan permainan edukatif sejarah.

 

Tata letak benda-benda di Museum Sepuluh November Surabaya disusun berdasarkan alur kronologis dan tematis sebagai berikut:

Urutan

Lokasi

Deskripsi Tata Letak

1

Pintu Masuk

Pengunjung masuk melalui sebuah ramp (jalan landai) yang menurun ke bawah tanah, menyusuri dinding relief yang memuat cerita awal perjuangan.

2

Lobi Utama

Terdapat meja informasi, peta museum, dan patung figur pejuang sebagai sambutan.

3

Koridor Sejarah Awal

Panel-panel kronologis berisi teks, foto, dan ilustrasi tentang masa penjajahan Belanda dan Jepang dipajang di dinding kiri dan kanan, dilengkapi dengan etalase kaca berisi benda-benda bersejarah kecil.

4

Ruang Diorama I (10 buah)

Sepuluh diorama ditempatkan dalam dua baris koridor panjang. Setiap diorama dilengkapi dengan pencahayaan spot, latar belakang mural, dan teks penjelasan dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris).

5

Ruang Koleksi Senjata

Sepuluh senjata dipajang dalam lemari kaca transparan berlapis baja yang dilengkapi dengan sistem pengatur suhu dan kelembaban (climate control).

6

Ruang Audio Visual

Ruangan berbentuk setengah lingkaran dengan layar lebar dan sistem akustik yang baik, tempat duduk berkapasitas sekitar 50 orang.

7

Dinding Nama Pahlawan

Dinding marmer hitam setinggi 4 meter membentang sepanjang 20 meter, terukir nama-nama pahlawan dengan tinta emas.

8

Ruang Edukasi

Terletak di bagian paling dalam museum, dilengkapi meja-meja bundar, papan tulis interaktif, dan rak buku.

9

Toko Suvenir

Terletak di dekat pintu keluar, menjual berbagai cendera mata seperti gantungan kunci, kaos, buku, dan replika mini Tugu Pahlawan.

10

Pintu Keluar

Ramp menanjak yang membawa pengunjung kembali ke permukaan tanah, keluar di area taman Tugu Pahlawan.

 

Area parkir di Museum Sepuluh November Surabaya tersedia di beberapa lokasi berikut:

v  Area Parkir Utama (Timur Museum): Terletak di sisi timur kompleks Tugu Pahlawan, tepat di sepanjang Jalan Pahlawan. Area ini merupakan parkir utama yang cukup luas dan mampu menampung puluhan kendaraan roda empat.

v  Area Parkir Barat Museum: Terletak di sisi barat kompleks, dekat dengan pintu masuk alternatif museum. Area ini lebih cocok untuk kendaraan roda dua seperti sepeda motor.

v  Area Parkir Bawah Tanah: Tersedia area parkir khusus yang berada di basement kompleks perkantoran di sekitar Tugu Pahlawan, khusus untuk kendaraan roda empat.

v  Parkir On-Street (Tepi Jalan): Di sepanjang Jalan Pahlawan dan Jalan Gubernur Suryo, terdapat parkir tepi jalan yang dikelola oleh petugas parkir resmi Kota Surabaya, namun kapasitasnya terbatas.

Museum Sepuluh November Surabaya harus dibangun karena beberapa alasan yang sangat penting, antara lain:

  1. Melestarikan Sejarah Pertempuran Surabaya: Pertempuran 10 November 1945 adalah salah satu peristiwa paling bersejarah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Museum ini berfungsi sebagai pusat dokumentasi dan preservasi memori kolektif bangsa agar tidak dilupakan oleh generasi mendatang.
  2. Menghormati Jasa Para Pahlawan: Museum ini merupakan bentuk penghormatan yang nyata dan abadi kepada ribuan pahlawan yang telah gugur demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dengan adanya museum, nama dan perjuangan mereka akan selalu dikenang.
  3. Sebagai Sarana Edukasi Sejarah: Museum ini menyediakan sarana pembelajaran yang interaktif dan komprehensif bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, dan masyarakat umum untuk memahami secara mendalam peristiwa Pertempuran 10 November.
  4. Meningkatkan Kesadaran Nasionalisme: Dengan menyaksikan secara langsung diorama, koleksi senjata, dan dokumentasi perjuangan, diharapkan semangat nasionalisme dan cinta tanah air generasi muda semakin terbangun dan menguat.
  5. Melengkapi Kawasan Tugu Pahlawan: Tugu Pahlawan yang sudah berdiri sejak tahun 1952 belum memiliki fasilitas museum yang memadai. Pembangunan museum melengkapi fungsi kawasan tersebut sebagai pusat sejarah dan pariwisata edukatif.
  6. Menarik Wisatawan: Museum ini menjadi daya tarik wisata sejarah yang mendatangkan wisatawan domestik maupun mancanegara, sekaligus menggerakkan perekonomian lokal di sekitar kawasan Tugu Pahlawan.

Insert Video: PERJALANAN KE MUSEUM SEPULUH NOVEMBER DI SURABAYA

 

Demikian, ulasan film yang telah saya bagikan dan semoga memberikan manfaat, memberikan motivasi, dan berbagi pengalaman kepada para pembaca sekita karena saya bersyukur dapat berbagi ilmu dan pengalaman yang saya miliki. Mohon maaf, jika ada salah kata dan khilaf dalam ketikan saya. Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

 

"Menulis adalah cara terbaik untuk berbicara tanpa disela. Mengulas adalah cara terbaik untuk menonton tanpa melupakan."

  • Share:

You Might Also Like

0 Komentar

Berkomentarlah dengan sopan dan santun