Museum Sepuluh November
Bismillahirrahmanirrohim. Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh, Museum Sepuluh November adalah museum sejarah yang berlokasi di pusat Kota Surabaya, tepatnya di dalam kompleks Tugu Pahlawan. Museum ini didirikan sebagai monumen penghormatan terhadap jasa para pahlawan yang gugur dalam Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional setiap tahunnya. Museum ini menyimpan, merawat, dan memamerkan berbagai koleksi sejarah yang berkaitan erat dengan perjuangan arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Museum ini dinamakan Museum Sepuluh November karena
nama tersebut merujuk langsung pada tanggal pertempuran paling heroik dalam
sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, yaitu 10 November 1945. Beberapa
alasan spesifik pemilihan nama ini adalah:
- Mengabadikan
Tanggal Bersejarah: Tanggal 10 November adalah hari ketika pecah
pertempuran besar antara arek-arek Suroboyo melawan tentara Sekutu dan
Belanda yang menjadi simbol perlawanan rakyat Indonesia secara nasional.
- Menegaskan
Identitas Hari Pahlawan: Tanggal 10 November kemudian ditetapkan oleh
pemerintah Republik Indonesia sebagai Hari Pahlawan Nasional melalui
Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959. Nama museum ini menegaskan
identitasnya sebagai museum yang didedikasikan untuk memperingati Hari
Pahlawan.
- Kesinambungan
dengan Tugu Pahlawan: Tugu Pahlawan yang menjulang tinggi di atas museum
ini juga dibangun untuk memperingati peristiwa 10 November. Nama museum
yang sama menciptakan kesatuan identitas antara monumen dan museum.
- Mudah Diingat dan Ikonis: Nama "Museum Sepuluh November" sangat mudah diingat oleh masyarakat luas dan sudah menjadi ikon Kota Surabaya yang dikenal hingga seluruh Indonesia dan mancanegara.
Bentuk museum ini sangat ikonis karena bangunannya
terletak di bawah tanah (Underground Museum) dengan bentuk yang unik dan
modern. Museum ini menjadi salah satu destinasi wisata edukasi dan sejarah
paling populer di Jawa Timur, bahkan di Indonesia.
Desain bawah tanah dipilih dengan pertimbangan yang
sangat matang dan penuh makna, yaitu: a. Makna Filosofis Kerendahan Hati,
desain bawah tanah melambangkan kerendahan hati dan ketulusan para pahlawan
yang berjuang tanpa mengharapkan pujian atau penghormatan. Mereka berjuang
dengan sembunyi-sembunyi, tidak menonjolkan diri, namun dampak perjuangan
mereka sangat besar bagi bangsa; b. Menjaga Estetika Tugu Pahlawan: Tugu
Pahlawan yang menjulang tinggi sudah menjadi ikon Kota Surabaya. Dengan
membangun museum di bawah tanah, keindahan dan kemegahan Tugu Pahlawan tidak
terganggu oleh bangunan baru di sekitarnya; c. Kenyamanan Termal: Bangunan
bawah tanah secara alami memiliki suhu yang lebih sejuk dan stabil, sehingga
pengunjung merasa nyaman saat berkeliling museum tanpa tergantung sepenuhnya
pada pendingin ruangan (AC); d. Akustik yang Baik: Lingkungan bawah tanah
mengurangi kebisingan dari luar, menciptakan suasana hening dan khidmat yang
sangat mendukung aktivitas kontemplasi dan pembelajaran Sejarah; dan e.
Keamanan Koleksi: Koleksi museum yang sangat berharga lebih aman dari risiko
kebakaran, gempa, dan pencurian karena berada di bangunan bawah tanah yang
kokoh dan terkontrol.
Ir. Soejoedi Wirjoatmodjo dipilih sebagai arsitek
Museum Sepuluh November Surabaya dengan alasan yang sangat kuat karena Ir.
Soejoedi Wirjoatmodjo adalah arsitek yang sebelumnya telah merancang Tugu
Pahlawan pada tahun 1951–1952. Pemahaman beliau yang mendalam terhadap makna
dan sejarah Tugu Pahlawan membuat beliau menjadi pilihan yang sangat tepat
untuk merancang museum pelengkapnya.
Beliau adalah arsitek senior yang memiliki pengalaman
luas dalam merancang bangunan-bangunan monumental di Indonesia. Reputasi beliau
sebagai arsitek yang piawai memadukan nilai sejarah, filosofi, dan estetika
dalam karya-karyanya sudah tidak diragukan lagi.
Dengan mempercayakan desain museum kepada arsitek yang
sama dengan perancang Tugu Pahlawan, maka tercipta kesinambungan visi
arsitektural antara monumen di atas tanah dan museum di bawah tanah. Kedua
bangunan ini menjadi satu kesatuan yang utuh dan harmonis.
Sebagai arsitek yang lahir dan besar di Jawa Timur,
beliau memiliki kedekatan emosional dengan nilai-nilai perjuangan arek-arek
Suroboyo, sehingga desain yang dihasilkan terasa autentik dan penuh
penghayatan.
Gaya desain Museum Sepuluh November Surabaya mengusung
gaya Arsitektur Brutalisme Modern (Modern Brutalism) yang dipadukan
dengan konsep bawah tanah (Underground Architecture). Ciri khas gaya
desain ini meliputi:
- Bentuk
geometris yang tegas dan monumental: Bangunan museum didominasi oleh
garis-garis lurus, sudut-sudut tajam, dan bentuk kubus yang kokoh.
- Penggunaan
beton ekspos (Exposed Concrete): Material utama bangunan adalah
beton bertulang yang sengaja dibiarkan tanpa penutup atau finishing
berlebihan, menampilkan tekstur alami beton yang kasar dan maskulin.
- Konsep
bawah tanah: Museum ini dibangun di bawah permukaan tanah sehingga dari
luar pengunjung hanya melihat atap beton yang rata dengan taman di
sekelilingnya. Konsep ini melambangkan kerendahan hati dan kesederhanaan
para pahlawan yang tidak ingin "menonjol," sekaligus memberikan
sensasi perjalanan spiritual menelusuri lorong waktu perjuangan.
- Pencahayaan
dramatis: Desain pencahayaan di dalam museum menggunakan permainan cahaya
dan bayangan yang kuat untuk menciptakan suasana khidmat dan heroik.
- Sirkulasi
linear dan kontemplatif: Tata ruang museum didesain mengalir secara
berurutan, membawa pengunjung dalam sebuah narasi perjalanan sejarah yang
utuh.
Ide untuk membangun Museum Sepuluh November Surabaya
dicetuskan oleh Pemerintah Kota Surabaya dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur
pada era Kepemimpinan Walikota Surabaya, Bapak Soenarto Soemoprawiro, bekerja
sama dengan Pemerintah Pusat Republik Indonesia melalui Kementerian Pariwisata
dan Kebudayaan pada masa yang sama. Gagasan ini lahir dari keinginan untuk
melengkapi Tugu Pahlawan yang sudah berdiri sejak tahun 1952 agar memiliki
fungsi edukatif yang lebih komprehensif. Museum ini dirancang sebagai pelengkap
monumen yang sudah ada, sehingga masyarakat dapat lebih mendalami dan merasakan
semangat perjuangan para pahlawan secara visual dan interaktif.
Museum Sepuluh November Surabaya dirancang oleh Ir.
Soejoedi Wirjoatmodjo, seorang arsitek senior Indonesia yang juga dikenal
sebagai perancang Tugu Pahlawan. Beliau adalah seorang arsitek lulusan Institut
Teknologi Bandung (ITB) yang memiliki pengalaman luas dalam merancang
bangunan-bangunan monumental dan bersejarah di Indonesia. Dalam merancang
museum ini, Ir. Soejoedi Wirjoatmodjo dibantu oleh tim arsitek dari Dinas
Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kota Surabaya serta beberapa konsultan desain
yang ahli dalam bidang museum dan tata pamer (Museum Exhibit Design).
Semua area parkir tersebut dikelola secara resmi oleh
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya bekerja sama dengan Dinas
Perhubungan Kota Surabaya, dengan tarif yang terjangkau dan keamanan yang
terjamin.
Proses pembangunan Museum Sepuluh November Surabaya
berlangsung dalam beberapa tahapan berikut:
- Tahap
Perencanaan (Tahun 1997–1998):
- Pemerintah
Kota Surabaya melakukan studi kelayakan (feasibility study) dan survei
lokasi.
- Tim
arsitek dan sejarawan menyusun konsep museum yang komprehensif.
- Dilakukan
koordinasi dengan Pemerintah Pusat dan instansi terkait.
- Tahap
Perancangan (Tahun 1998–1999):
- Ir.
Soejoedi Wirjoatmodjo bersama tim menyusun desain arsitektur dan desain
interior.
- Tim
kurator museum mengumpulkan dan menyeleksi benda-benda bersejarah yang
akan dipamerkan.
- Rencana
Anggaran Biaya (RAB) disusun secara detail.
- Tahap
Pembangunan Fisik (Tahun 1999–2000):
- Pekerjaan
konstruksi dimulai dengan penggalian tanah untuk bangunan bawah tanah.
- Fondasi
dan struktur beton bertulang dikerjakan dengan metode konstruksi khusus.
- Pemasangan
instalasi listrik, pencahayaan, tata suara, dan sistem keamanan.
- Pekerjaan
finishing interior, lantai, dinding, dan plafon.
- Pemasangan
koleksi, diorama, relief, dan panel informasi.
- Tahap Uji
Coba dan Soft Opening (Tahun 2000):
- Museum
diuji coba secara terbatas kepada kalangan sejarawan, veteran, dan tokoh
masyarakat.
- Evaluasi
dilakukan terhadap kelengkapan informasi, keamanan pengunjung, dan
kenyamanan sirkulasi.
- Tahap Grand
Opening (10 November 2000):
- Museum
diresmikan secara resmi oleh Presiden B.J. Habibie dan dibuka untuk
masyarakat umum.
Proses perancangan desain Museum Sepuluh November
Surabaya dilakukan melalui langkah-langkah berikut:
- Studi
Literatur dan Riset Sejarah: Tim arsitek mempelajari secara mendalam
peristiwa Pertempuran 10 November 1945, termasuk karakteristik arsitektur
bangunan era kolonial di Surabaya yang menjadi latar pertempuran.
- Pendekatan
Simbolis: Desain museum menggunakan pendekatan simbolis di mana bentuk
fisik bangunan merepresentasikan nilai-nilai perjuangan. Bentuk bawah
tanah dipilih untuk melambangkan kerendahan hati para pahlawan yang
berjuang tanpa pamrih.
- Konsep
"Perjalanan Waktu": Tata ruang museum didesain sebagai sebuah
perjalanan linier dari masa pra-perjuangan, masa pertempuran, hingga masa
penghormatan kepada pahlawan. Pengunjung diajak berjalan menyusuri lorong
waktu sejarah.
- Pemilihan
Material: Beton ekspos dipilih karena material ini melambangkan kekokohan,
keteguhan, dan kejujuran (jujur dalam menampilkan material aslinya tanpa
polesan). Warna abu-abu beton juga menciptakan suasana khidmat yang sesuai
dengan fungsi museum sebagai tempat kontemplasi.
- Kolaborasi
dengan Ahli Museum: Tim desain bekerja sama dengan kurator museum dan
sejarawan untuk memastikan setiap elemen desain mendukung narasi sejarah
yang akurat dan informatif.
- Uji Coba
Pencahayaan: Desain pencahayaan diuji secara detail untuk menciptakan efek
dramatis pada diorama dan koleksi, serta memberikan pengalaman visual yang
maksimal bagi pengunjung.
Museum Sepuluh November Surabaya diresmikan oleh Bapak
K.H. Abdul Rahman Wachid, Presiden Republik Indonesia Keempat. Beliau meresmikan
museum ini pada tanggal 10 Februari 2000. Peresmian ini merupakan momen
bersejarah karena kehadiran Bapak K.H. Abdul Rahman Wachid menunjukkan betapa
pentingnya museum ini sebagai simbol nasionalisme dan penghormatan terhadap
jasa para pahlawan.
Pembangunan Museum Sepuluh November Surabaya dimulai
pada tahun 1999. Proyek ini merupakan bagian dari program revitalisasi dan
pengembangan kawasan Tugu Pahlawan yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota
Surabaya bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Pembangunan museum ini selesai pada tahun 2000. Proses
pengerjaannya memakan waktu kurang lebih satu tahun, terhitung sejak peletakan
batu pertama pada awal tahun 1999 hingga tahap finishing interior dan instalasi
koleksi pada akhir tahun 2000.
Museum Sepuluh November Surabaya diresmikan untuk umum
pada tanggal 10 November 2000. Tanggal ini dipilih dengan sangat simbolis,
bertepatan dengan peringatan ke-55 Hari Pahlawan Nasional. Peresmian dilakukan
langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak K.H. Abdul Rahman Wachid, dan
dihadiri oleh para veteran pejuang kemerdekaan, tokoh masyarakat, serta pejabat
negara lainnya.
Museum Sepuluh November Kompleks Tugu Pahlawan Jalan
Pahlawan Nomor 15–17 Kelurahan Alun-Alun Contong, Kecamatan Bubutan Kota
Surabaya 60174 Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Lokasi museum ini sangat
strategis karena berada di pusat Kota Surabaya, tepat di seberang Gedung Negara
Grahadi, sekitar Jembatan Merah, & Kawasan Kota Tua Surabaya. Letaknya yang
sentral membuat museum ini mudah dijangkau dari berbagai penjuru kota.
Di dalam Museum Sepuluh November, pengunjung dapat
menemukan berbagai koleksi dan fasilitas, antara lain:
A.
Koleksi
Senjata Asli Zaman Perjuangan terdapat Sepuluh jenis senjata rampasan dari
tentara Jepang dan Sekutu dipajang secara rapi, termasuk senapan, pistol, dan
mortir.
B.
Diorama
Pertempuran Surabaya terdapat Sebanyak 10 diorama tiga dimensi yang
menggambarkan secara detail momen-momen heroik Pertempuran 10 November 1945,
mulai dari perobekan bendera Belanda di Hotel Oranye (kini Hotel Majapahit)
hingga pertempuran sengit di berbagai sudut kota.
C.
Relief
Perjuangan terdapat Sebuah relief besar sepanjang puluhan meter yang mengukir
perjalanan sejarah perjuangan rakyat Surabaya, mulai dari masa penjajahan
Belanda, Jepang, proklamasi kemerdekaan, hingga Pertempuran 10 November.
D.
Koleksi
Foto dan Dokumentasi Sejarah terdapat Foto-foto asli para tokoh pejuang,
situasi kota Surabaya pada tahun 1945, serta dokumentasi peristiwa bersejarah
lainnya.
E.
Replika
Surat Keputusan Pertempuran adalah Dokumen bersejarah yang memperkuat narasi
perjuangan.
F.
Monumen
Nama Pahlawan terdapat Daftar nama ribuan pahlawan yang gugur dalam Pertempuran
Surabaya terukir pada dinding museum.
G.
Audio
Visual Room adalah Ruang pemutaran film dokumenter tentang Pertempuran 10
November yang dilengkapi dengan teknologi suara dan pencahayaan yang imersif.
H.
Area
Edukasi Interaktif ada juga Beberapa pojok interaktif yang memungkinkan
pengunjung, terutama pelajar, untuk belajar sejarah secara lebih menarik dan
menyenangkan.
I.
Pusat
Informasi dan Perpustakaan Mini juga Menyediakan buku-buku referensi sejarah
terkait perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Tata letak benda-benda di Museum Sepuluh November
dirancang secara kronologis dan tematis. Berikut adalah gambaran letak setiap
koleksi:
|
Zona/Ruang |
Isi Koleksi |
|
Zona A (Pintu Masuk
& Lobi) |
Meja informasi,
area tiket, dan relief selamat datang yang menggambarkan sekilas tentang
Pertempuran Surabaya. |
|
Zona B (Ruang
Pengantar Sejarah) |
Foto-foto dan
dokumentasi masa penjajahan Belanda dan Jepang, serta peta Kota Surabaya
tahun 1945. |
|
Zona C (Koridor
Diorama 1–3) |
Tiga diorama
pertama yang menggambarkan peristiwa proklamasi kemerdekaan, kedatangan
tentara Sekutu, dan insiden Hotel Oranye. |
|
Zona D (Koridor
Diorama 4–6) |
Tiga diorama
berikutnya yang menggambarkan pertempuran jalanan, peran para ulama dan
santri, serta perlawanan rakyat. |
|
Zona E (Koridor
Diorama 7–10) |
Empat diorama akhir
yang menggambarkan pertempuran di Gedung Internatio, pertempuran di Pasar
Turi, gugurnya para pejuang, dan makna Hari Pahlawan. |
|
Zona F (Ruang
Koleksi Senjata) |
Sepuluh jenis
senjata asli dan replika yang dipajang dalam lemari kaca dengan pencahayaan
khusus. |
|
Zona G (Ruang Audio
Visual) |
Layar lebar dan
sistem suara surround untuk pemutaran film dokumenter. |
|
Zona H (Ruang Nama
Pahlawan) |
Dinding marmer
hitam yang diukir dengan ribuan nama pahlawan. |
|
Zona I (Ruang
Edukasi dan Perpustakaan) |
Buku-buku
referensi, meja belajar interaktif, dan permainan edukatif sejarah. |
Tata letak benda-benda di Museum Sepuluh November
Surabaya disusun berdasarkan alur kronologis dan tematis sebagai berikut:
|
Urutan |
Lokasi |
Deskripsi Tata
Letak |
|
1 |
Pintu Masuk |
Pengunjung masuk melalui sebuah ramp (jalan landai)
yang menurun ke bawah tanah, menyusuri dinding relief yang memuat cerita awal
perjuangan. |
|
2 |
Lobi Utama |
Terdapat meja informasi, peta museum, dan patung
figur pejuang sebagai sambutan. |
|
3 |
Koridor Sejarah Awal |
Panel-panel kronologis berisi teks, foto, dan
ilustrasi tentang masa penjajahan Belanda dan Jepang dipajang di dinding kiri
dan kanan, dilengkapi dengan etalase kaca berisi benda-benda bersejarah
kecil. |
|
4 |
Ruang Diorama I (10 buah) |
Sepuluh diorama ditempatkan dalam dua baris koridor
panjang. Setiap diorama dilengkapi dengan pencahayaan spot, latar belakang
mural, dan teks penjelasan dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris). |
|
5 |
Ruang Koleksi Senjata |
Sepuluh senjata dipajang dalam lemari kaca
transparan berlapis baja yang dilengkapi dengan sistem pengatur suhu dan
kelembaban (climate control). |
|
6 |
Ruang Audio Visual |
Ruangan berbentuk setengah lingkaran dengan layar
lebar dan sistem akustik yang baik, tempat duduk berkapasitas sekitar 50
orang. |
|
7 |
Dinding Nama Pahlawan |
Dinding marmer hitam setinggi 4 meter membentang sepanjang
20 meter, terukir nama-nama pahlawan dengan tinta emas. |
|
8 |
Ruang Edukasi |
Terletak di bagian paling dalam museum, dilengkapi
meja-meja bundar, papan tulis interaktif, dan rak buku. |
|
9 |
Toko Suvenir |
Terletak di dekat pintu keluar, menjual berbagai
cendera mata seperti gantungan kunci, kaos, buku, dan replika mini Tugu
Pahlawan. |
|
10 |
Pintu Keluar |
Ramp menanjak yang membawa pengunjung kembali ke
permukaan tanah, keluar di area taman Tugu Pahlawan. |
Area parkir di Museum Sepuluh November Surabaya
tersedia di beberapa lokasi berikut:
v
Area
Parkir Utama (Timur Museum): Terletak di sisi timur kompleks Tugu Pahlawan,
tepat di sepanjang Jalan Pahlawan. Area ini merupakan parkir utama yang cukup
luas dan mampu menampung puluhan kendaraan roda empat.
v
Area
Parkir Barat Museum: Terletak di sisi barat kompleks, dekat dengan pintu masuk
alternatif museum. Area ini lebih cocok untuk kendaraan roda dua seperti sepeda
motor.
v
Area
Parkir Bawah Tanah: Tersedia area parkir khusus yang berada di basement
kompleks perkantoran di sekitar Tugu Pahlawan, khusus untuk kendaraan roda
empat.
v
Parkir
On-Street (Tepi Jalan): Di sepanjang Jalan Pahlawan dan Jalan Gubernur Suryo,
terdapat parkir tepi jalan yang dikelola oleh petugas parkir resmi Kota
Surabaya, namun kapasitasnya terbatas.
Museum Sepuluh November Surabaya harus dibangun karena
beberapa alasan yang sangat penting, antara lain:
- Melestarikan
Sejarah Pertempuran Surabaya: Pertempuran 10 November 1945 adalah salah
satu peristiwa paling bersejarah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Museum ini berfungsi sebagai pusat dokumentasi dan preservasi memori
kolektif bangsa agar tidak dilupakan oleh generasi mendatang.
- Menghormati
Jasa Para Pahlawan: Museum ini merupakan bentuk penghormatan yang nyata
dan abadi kepada ribuan pahlawan yang telah gugur demi mempertahankan
kemerdekaan Indonesia. Dengan adanya museum, nama dan perjuangan mereka
akan selalu dikenang.
- Sebagai
Sarana Edukasi Sejarah: Museum ini menyediakan sarana pembelajaran yang
interaktif dan komprehensif bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, dan
masyarakat umum untuk memahami secara mendalam peristiwa Pertempuran 10
November.
- Meningkatkan
Kesadaran Nasionalisme: Dengan menyaksikan secara langsung diorama,
koleksi senjata, dan dokumentasi perjuangan, diharapkan semangat
nasionalisme dan cinta tanah air generasi muda semakin terbangun dan
menguat.
- Melengkapi
Kawasan Tugu Pahlawan: Tugu Pahlawan yang sudah berdiri sejak tahun 1952
belum memiliki fasilitas museum yang memadai. Pembangunan museum
melengkapi fungsi kawasan tersebut sebagai pusat sejarah dan pariwisata
edukatif.
- Menarik
Wisatawan: Museum ini menjadi daya tarik wisata sejarah yang mendatangkan
wisatawan domestik maupun mancanegara, sekaligus menggerakkan perekonomian
lokal di sekitar kawasan Tugu Pahlawan.
Insert Video: PERJALANAN KE MUSEUM SEPULUH NOVEMBER DI SURABAYA
Demikian, ulasan film yang telah saya bagikan dan semoga
memberikan manfaat, memberikan motivasi, dan berbagi pengalaman kepada para
pembaca sekita karena saya bersyukur dapat berbagi ilmu dan pengalaman yang
saya miliki. Mohon maaf, jika ada salah kata dan khilaf dalam ketikan saya.
Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
"Menulis adalah cara terbaik untuk berbicara tanpa disela. Mengulas adalah cara terbaik untuk menonton tanpa melupakan."






0 Komentar
Berkomentarlah dengan sopan dan santun