ULASAN FILM THE KID WHO WOULD BE KING TAHUN 2019
|
Judul Film |
The Kid Who Would Be King |
|
Asal Film |
Inggris |
|
Durasi Film |
2 Jam |
|
Jenis Film |
Petualangan, Fantasi, Aksi, Keluarga |
|
Sutradara Film |
Joe Cornish |
|
Penulis Film |
Joe Cornish |
|
Studio Film |
20th Century Fox, Working Title Films, & Big Talk Pictures |
|
Tahun Rilis Film |
2019 |
|
Pemain Film |
Louis Ashbourne Serkis, Dean Chaumoo, Tom Taylor, Rhianna Dorris, Angus
Imrie, Rebecca Ferguson, Patrick Stewart, & Denise Gough |
|
Estimasi Biaya |
59.000.000 Juta Dollar US |
|
Keuntungan Penjualan |
32.100.000 Juta Dollar US |
|
Penilaian Cinemascore |
A- |
|
Penilaian IMDB |
⭐ 6,1 Poin / 10 Poin |
|
Penilaian Rotten Tomatoes |
🍅 89% / 100% Tomatometer dari Penilaian Kritikus Film
Professional & 72% / 100% Popcornmeter dari Penilaian Penonton Biasa |
|
Penilaian Themovie (TMDB) |
62% / 100% dari Skor Pengguna |
|
Pengulas |
Aisyah Nur Rahmah Febriani |
|
Website |
belajarmenjadigurusejati.blogspot.com
|
Bismillahirrahmanirrohim. Assalamu'alaikum
Warrahmatullahi Wabarakatuh. Film The Kid Who Would Be King tahun 2019 adalah
sebuah film yang layak untuk diulas dan ditonton karena beberapa alasan yang
sangat kuat karena film ini menghadirkan kisah petualangan epik yang dibalut
dengan sentuhan modern, menggabungkan legenda Raja Arthur yang abadi dengan
kehidupan anak sekolah zaman sekarang. Konsep ini sangat segar dan unik karena
kita bisa membayangkan seorang anak SMP biasa yang tiba-tiba harus menyandang
tanggung jawab sebesar seorang raja legendaris.
Film ini membawa pesan moral yang sangat kuat tentang
keberanian, persahabatan, dan keteguhan hati. Di tengah maraknya film-film yang
penuh kekerasan dan konten dewasa, film ini menjadi oase yang menyejukkan bagi
keluarga dan anak-anak.
Film ini disutradarai oleh Joe Cornish, yang
sebelumnya sukses dengan film Attack the Block (2011). Ia mampu meramu
petualangan seru dengan humor cerdas yang pas untuk segala usia.
Penampilan para aktor muda yang luar biasa berbakat, terutama Louis
Ashbourne Serkis (putra dari aktor legendaris Andy Serkis) yang berhasil
membawakan karakter Alex Elliot dengan sangat meyakinkan dan menggemaskan.
Film ini mengajarkan bahwa kepahlawanan tidak mengenal usia. Seorang
anak berusia 12 tahun pun bisa menjadi pahlawan jika ia memiliki hati yang
tulus, keberanian, dan keteguhan untuk melakukan hal yang benar.
A. Sinopsis Lengkap Film "The Kid Who Would Be
King" (2019)
The Kid Who Would Be King mengisahkan tentang seorang anak laki-laki bernama Alex
Elliot (Louis Ashbourne Serkis), seorang siswa SMP biasa yang tinggal di London
bersama ibunya. Alex sering menjadi korban perundungan (bullying) di sekolah
oleh seorang kakak kelas bernama Lance (Tom Taylor) dan gengnya yang suka
semena-mena.
Suatu hari, saat melarikan diri dari kejaran para
pembully, Alex secara tidak sengaja menemukan sebuah pedang kuno yang tertancap
di sebuah batu di sebuah lokasi konstruksi. Tanpa diduga, Alex berhasil mencabut
pedang tersebut dari batu yang kemudian menjadi sebuah peristiwa yang
mengguncang dunianya. Pedang itu tidak lain adalah Excalibur, pedang legendaris
milik Raja Arthur.
Ternyata, dunia sedang berada dalam ancaman besar. Morgana
(Rebecca Ferguson), saudara tiri Raja Arthur sekaligus penyihir jahat yang
telah dikurung ribuan tahun lamanya, mulai bangkit kembali dan mengirimkan
pasukan kegelapan untuk menguasai dunia. Hanya keturunan Raja Arthur yang bisa
menghentikannya, dan Alex ternyata Adalah keturunan langsung dari Raja Arthur.
Tak lama kemudian, muncullah Merlin (Angus Imrie),
seorang penyihir muda yang sebenarnya adalah versi muda dari penyihir
legendaris Merlin (yang versi tuanya diperankan oleh Patrick Stewart). Merlin
datang untuk membimbing Alex dan teman-temannya dalam menghadapi ancaman
Morgana.
B. Karakter-Karakter Penting Dalam Film Ini
1.
Alex
Elliot (Louis Ashbourne Serkis):
Alex
adalah protagonis utama film ini. Ia digambarkan sebagai anak yang cerdas, baik
hati, tetapi kurang percaya diri akibat sering menjadi korban perundungan. Alex
tinggal hanya bersama ibunya karena ayahnya telah meninggalkan mereka.
Perjalanannya dari seorang anak yang merasa tidak berdaya menjadi seorang
pemimpin pemberani adalah inti dari kisah ini. Ia mewarisi sifat-sifat mulia
Raja Arthur: keadilan, keberanian, dan kerendahan hati. Louis Ashbourne Serkis,
yang merupakan putra dari aktor Andy Serkis (Gollum dalam Lord of the Rings),
menampilkan akting yang sangat natural dan memikat.
2.
Bedders
(Dean Chaumoo):
Bedders
adalah karakter yang loyal, cerdas, dan penuh semangat. Ia adalah seorang kutu
buku yang sangat ahli dalam sejarah, khususnya legenda Raja Arthur dan para
Ksatria Meja Bundar. Pengetahuannya yang luas menjadi senjata utama dalam
membantu kelompok mereka merencanakan strategi. Bedders juga adalah sosok yang
setia kawan karena ia selalu mendukung Alex apa pun yang terjadi, bahkan ketika
situasi terlihat mustahil. Karakternya mengajarkan bahwa kecerdasan dan
kesetiaan adalah kekuatan yang luar biasa.
3.
Lance
(Tom Taylor):
Lance
adalah seorang kakak kelas yang awalnya menjadi antagonis utama di sekolah. Ia bersama
gengnya sering merundung Alex dan Bedders. Namun, setelah bergabung dalam
perjuangan melawan Morgana, Lance mengalami transformasi karakter yang
signifikan. Ia belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti menindas yang lemah,
melainkan melindungi mereka. Nama "Lance" sendiri jelas merupakan
kiasan dari Sir Lancelot, ksatria paling terkenal dalam legenda Arthur.
Perjalanan Lance dari musuh menjadi sahabat adalah salah satu alur karakter
terbaik dalam film ini.
4.
Kaye
(Rhianna Dorris):
Kaye
adalah teman sekelas Alex yang awalnya bergabung dengan kelompok Lance dalam
merundung Alex. Namun, Kaye memiliki hati yang lebih baik daripada yang ia
tunjukkan di permukaan. Setelah bergabung dalam misi melawan Morgana, Kaye
menunjukkan keberanian dan ketangguhan yang luar biasa. Ia tidak segan-segan
menghadapi para makhluk kegelapan dengan penuh semangat. Karakter Kaye mewakili
perempuan kuat dan mandiri yang tidak mau ketinggalan dalam pertempuran dan
membuktikan bahwa ksatria tidak selalu laki-laki.
5.
Merlin
(Angus Imrie untuk Merlin Muda & Patrick Stewart untuk Merlin Tua):
Merlin
mudah yang menyadari kebangkitan Morgana akhirnya keluar & menuju keturunan
terakhir Raja Arthur demi menyelamatkan dunia. Dia pun rela menyamar menjadi siswa
kelas 11 SMA tersebut.
Pertemuan
pun terjadi tetapi Alex menganggapnya seorang kakak kelas laki-laki yang aneh, eksentrik,
& peuh khayalan. Dia pun tidak menyerah lalu menunjukkan kemampuan sihirnya
di depan Alex & Bedder.
6.
Rebecca
Ferguson (Morgana):
Morgana
telah mengetahui keberadaan pedang Excalibur ada di belahan bumi Eropa pun
seketika merencanakan untuk mencari & menguasai pedang Excalibur.
Dia pun
mengerahkan seluruh kekuatan jahatnya untuk bangun, mencari pada malam hari pedang
Excalibur, & menghancurkan siapapun yang membawa pedang Excalibur tersebut.
Wujud
terburuk Morgana pun keluar saat pertarungan terjadi demi membunuh Alex,
Bedder, Lance, Kaye, & Merlin.
7.
Denise
Gough (Ibu Alex):
Ibu Alex
yang telah lama menjaga, merawat, & membesarkan Alex sendiri pun merasa
curiga & khawatir akan kelakuan aneh anaknya, Alex. Dia sering melihat Alex
berbicara sendiri, menyendiri dikamarnya, & mengetahui Alex sering bolos
sekolah dari guru Alex.
Ia pun
mengonfrontasi Alex untuk berbicara jujur, mengatakan tujuannya apa atas
kelakuannya yang mengkhawatirkan beberapa hari ini, & hal tersebut membuat mereka
berdua bertengkar hebat sehingga Alex kabur membawa pedang Excalibur.
C. Hikmah Film The Kid Who Would Be King Tahun
2019 Yang Dapat Diambil
Film ini bukan sekadar tontonan petualangan biasa,
melainkan sarat akan pesan moral yang mendalam dan relevan untuk segala usia. Alex,
seorang anak biasa yang sering dibully, justru dipilih menjadi penerus Raja
Arthur. Ini mengajarkan bahwa kepahlawanan tidak lahir dari kekuatan fisik,
melainkan dari keberanian hati. Kita diajak untuk tidak gentar menghadapi
tantangan, sekecil apa pun diri kita merasa.
Alex tidak bisa sendirian. Ia membutuhkan
teman-temannya yang awalnya saling berselisih untuk bersatu melawan Morgana.
Ini menjadi alegori kuat bahwa perbedaan dan pertikaian kecil di antara kita
hanya akan melemahkan. Hanya dengan bersatu dan saling percaya, kita dapat
mengalahkan kejahatan yang jauh lebih besar.
Pedang Excalibur hanya dapat dicabut oleh mereka yang
hatinya murni. Ini mengajarkan bahwa kekuasaan dan kehormatan bukanlah tujuan,
melainkan amanah. Orang yang tulus, jujur, dan memiliki niat baiklah yang layak
memegang tanggung jawab besar.
Konsep bahwa "Legenda Menjadi Kenyataan"
mengingatkan kita bahwa sejarah dan nilai-nilai luhur masa lalu harus
dihidupkan kembali untuk menghadapi masalah masa kini. Jangan pernah meremehkan
kekayaan budaya dan cerita dari generasi sebelumnya.
Sama seperti permainan catur dalam film, setiap
langkah salah adalah pelajaran. Alex dan teman-temannya mengalami banyak
kemunduran, namun mereka tidak menyerah. Ini mengajarkan resiliensi, yang
bermakna kemampuan bertahan untuk bangkit kembali setelah jatuh.
D. Rating Skor Film The Kid Who Would Be King Tahun 2019
Berdasarkan agregasi dari berbagai sumber kritikus
film dan pengamat perfilman, berikut adalah rating yang dapat menjadi acuan:
|
Platform |
Rating Skor |
Keterangan |
|
Rotten Tomatoes (Tomatometer) |
89% (Fresh) |
Mendapatkan predikat segar dari para kritikus, yang berarti secara
umum film ini direkomendasikan. |
|
Rotten Tomatoes (Audience Score) |
72% (Liked It) |
Penonton umum juga memberikan respons positif, terutama dari kalangan
keluarga dan anak-anak. |
|
IMDb |
6.1 Poin / 10 Poin |
Skor ini cukup solid untuk kategori film petualangan keluarga. |
|
Common Sense Media |
4 Poin / 5 Poin |
Direkomendasikan untuk usia 8 tahun ke atas. Dinilai sangat baik dari
segi pesan positif dan peran model. |
Secara umum, film ini mendapat sambutan yang hangat.
Meskipun bukan film blockbuster dengan skor sempurna, kualitas cerita, akting,
dan pesan moralnya diakui sangat baik oleh kritikus (87% Fresh di Rotten
Tomattoes). Ini adalah tontonan keluarga yang layak disaksikan.
E. Komentar Untuk Film The Kid Who Would Be King Tahun
2019
Film ini adalah sebuah napas segar di tengah gempuran
film-film superhero dewasa yang sarat akan kekerasan. The Kid Who Would
Be King berhasil membawa pulang esensi dari mitos Raja Arthur ke dalam
setting sekolah modern di Inggris dengan cara yang cerdas, lucu, dan
mengharukan.
Saya sangat mengapresiasi bagaimana sutradara Joe
Cornish mampu menyeimbangkan antara elemen fantasi (seperti monster, sihir, dan
ksatria) dengan realita keseharian anak remaja (seperti tekanan akademik, bullying,
dan pertemanan). Hasilnya adalah sebuah film yang terasa relevan dan mudah
dicerna oleh penonton muda, namun tetap memiliki kedalaman cerita yang bisa
dinikmati oleh orang dewasa.
Adegan-adegannya dikemas dengan ringan tetapi tidak
kehilangan greget. Chemistry antara para aktor muda, terutama Louis Ashbourne
Serkis sebagai Alex dan Dean Chaumoo sebagai Bedders, sangat natural dan
mengundang simpati. Penggambaran karakter 'Lance' dan 'Kay' versi modern juga
berhasil menjadi sumber humor yang segar tanpa terkesan berlebihan.
Yang paling membekas adalah pesan bahwa "Setiap
Anak Memiliki Potensi Untuk Menjadi Raja Atau Ratu Bagi Dunianya Sendiri."
Film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menanamkan benih keberanian,
integritas, dan persahabatan. Saya rasa, inilah film yang tepat untuk ditonton
bersama adik, anak, atau keponakan untuk memicu diskusi tentang kebaikan hati
dan arti menjadi seorang pemimpin sejati.
Insert Video: TRAILER FILM THE KID WHO WOULD BE KING TAHUN 2019
Demikian, ulasan film yang telah saya bagikan dan semoga
memberikan manfaat, memberikan motivasi, dan berbagi pengalaman kepada para
pembaca sekita karena saya bersyukur dapat berbagi ilmu dan pengalaman yang
saya miliki. Mohon maaf, jika ada salah kata dan khilaf dalam ketikan saya.
Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
"Menulis adalah cara terbaik untuk berbicara
tanpa disela. Mengulas adalah cara terbaik untuk menonton tanpa
melupakan."

0 Komentar
Berkomentarlah dengan sopan dan santun